0
Dikirim pada 20 Agustus 2014 di Entrepreneur & Bisnis

Motivasi dan Tujuan Berbisnis

Meneladani Rasulullah SAW


Islam adalah sebuah sistem. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa kehidupan ekonomi, sosial, dan pemerintahan tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan beragama (beribadah). Begitu pula dengan kebijakan keuangan publik, yang tidak mungkin dipisahkan dari etika bisnis Islam. Jika transaksi ekonomi tidak menggunakan etika Islam yang telah diajarkan Rasulullah, kita akan terjebak pada doktrin kapitalis yang sengaja memisahkan antara keyakinan beragama dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan kebijakan negara sehingga seolah-olah keduanya tidak berkaitan.
Alqur'an sebagai pegangan hidup umat Islam telah mengatur kegiatan bisnis secara eksplisit dan memandang bisnis sebagai sebuah pekerjaan yang menguntungkan dan menyenangkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Alqur'an sangat mendorong dan memotivasi umat Islam untuk melakukan transaksi bisnis dalam kehidupan (Ghani,2009). Salah satu keunikan ajaran agama terbesar ini adalah ia mengajarkan para penganutnya untuk berpraktik ekonomi berdasarkan norma-norma dan etika islam yang tidak terlihat pada ajaran agama lain. Islam pun begitu komprehensif mengajarkan norma dalam melaksanakan transaksi ekonomi. Bahkan, para ekonom muslim dan nonmuslim mengakui bahwa yang diajarkan islam adalah nilai-nilai dasar etika ekonomi (keseimbangan, kesatuan, tanggung jawab, dan keadilan) yang bersumber dari ajaran tauhid dan merupakan unsur-unsur fundamental dalam bidang ekonomi.
Alqur'an dan hadist telah memberi resep tertentu dalam tata krama demi kebaikan seorang pelaku bisnis. Seorang pelaku bisnis diwajibkan berperilaku sesuai dengan yang dianjurkan oleh Alqur'an dan hadist. Pola hubungan antara agama dan ekonomi dalam islam telah melahirkan prinsip umum yaitu untuk mencapai tingkat kesejahteraan di bidang ekonomi, setiap orang disyariatkan, tidak hanya diberi kebebasan untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi (muamalah al-madiyah), tetapi juga harus mempertimbangkan etika bisnis (muamalah al-‘adabiyah) yang berpijak pada prinsip dan asas ekonomi Islam.
Setiap individu bertanggung jawab terhadap semua transaksi yang dilakukannya karena tidak ada seorang pun yang berimunitas tertentu untuk menghadapi konsekuensi terhadap segala yang dilakukannya. Masalah paling krusial yang harus segera dipecahkan adalah pembukaan jalan agar umat Islam mampu melakukan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam karena di saat yang sama umat Islam di seluruh belahan dunia - dengan sistem ekonomi yang eksis di dalamnya - sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi kapitalis liberal dan sosialis yang sangat kuat.
Dalam setiap kegiatan bisnis, perumusan etika ekonomi Islam sangat diperlukan sebagai pemandu segala tingkah laku kegiatan ekonomi di kalangan masyarakat muslim. Etika bisnis tersebut, selanjutnya dijadikan sebagai kerangka praktis yang secara fungsional akan membentuk suatu kesadaran beragama dalam melakukan setiap kegiatan ekonomi (religiousness economic practical guidance). Alqur'an sebenarnya telah mengakui legitimasi bisnis sehingga prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk permasalahan bisnis antar individu dan kelompok dipaparkan juga di dalamnya (Gamal,2010).
Tujuan etika Islam menurut kerangka berfikir filsafat adalah memperoleh suatu kesamaan ide bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat, tentang ukuran tingkah laku baik dan buruk yaitu sejauh mana sesuatu dapat dicapai dan diketahui menurut akal pikiran manusia.
Etika ekonomi Islam, sebagaimana dirumuskan oleh para ahli ekonomi Islam adalah suatu ilmu yang mempelajari aspek-aspek kemaslahatan dan kemafsadatan kegiatan ekonomi dengan memerhatikan amal perbuatan manusia memerhatikan amal perbuatan manusia yaitu sejauh mana dapat diketahui menurut akal pikiran (rasio) dan bimbingan wahyu (nash). Dalam hal ini, etika ekonomi dipandang sama dengan akhlak karena keduanya membahas kebaikan dan keburukan tingkah laku manusia.
Sementara itu, tujuan etika Islam menurut kerangka berfikir filsafat adalah memperoleh suatu kesamaan ide bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku baik dan buruk yaitu sejauh mana sesuatu dapat dicapai dan diketahui menurut akal pikiran manusia (An-Nabhani,1996).
Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, etika islam mengalami kesulitan karena pandangan tentang standar normatif baik dan buruk setiap golongan berbeda-beda. Selain itu, setiap golongan pun mempunyai ukuran dan kriteria yang berbeda-beda. Sebagai cabang filsafat, ajaran etika bukan berasal dari ajaran agama, melainkan dari akal pikiran. Berbeda dengan hal tersebut, dalam islam, ilmu akhlak dapat dipahami sebagai pengetahuan yang mengajarkan kebaikan dan keburukan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari akal dan wahyu. Oleh karena itu, etika ekonomi yang dikehendaki dalam Islam adalah perilaku sosial-ekonomi yang harus sesuai dengan ketentuan wahyu, serta fitrah dan akal pikiran manusia yang lurus.
Dalam pelaksanaan kegiatan ekonomi, Alqur'an mengakui hak individu dan kelompok untuk memiliki dan memindahkan suatu kekayaan secara bebas serta tanpa paksaan. Al-qur'an pun mengakui otoritas deligatif terhadap harta yang dimiliki secara legal oleh seorang invidu atau kelompok. Selain itu, Al-qur'an pun memberi kemerdekaan penuh untuk melakukan transaksi yang sesuai dengan kehendak-Nya dengan batas-batas yang ditentukan oleh syariah. Kekayaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat dan tindakan penggunaan harta orang lain dengan cara tidak halal atau tanpa izin dari pemilik sah merupakan hal yang dilarang. Oleh karena itu, setiap orang diwajibkan untuk menghormati hak hidup dan harta orang lain, sebagaimana terungkap dalam surah an-Nisaa (4) ayat 29, yang artinya :
"hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu".
Akhlak Rasulullah SAW Dalam Berbisnis
Menurut etika bisnis Islam, setiap pelaku bisnis (pengusaha) dalam berdagang atau menjalankan usahanya, hendaknya tidak semata-mata bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Akan tetapi, yang paling penting adalah mencari keridhoan dan mencapai keberkahan atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Hakikat keberkahan usaha tersebut adalah kemantapan dari usaha yang dilakukan seorang pengusaha dalam bentuk memperoleh keuntungan yang wajar dan diridhai Allah SWT. Untuk memperoleh keberkahan dalam jual beli, Islam mengajarkan prinsip-prinsip etis sebagaimana yang diajarkan Rasulullah (Faisal, 2009).
Sangat banyak petunjuk mengenai etika bisnis yang diajarkan Rasulullah SAW. Setidaknya penulis mengompilasi sebanyak dua puluh poin, yang diinspirasi dari lima poin tulisan Badrudin (2001:167-172) yaitu sebagai berikut :
1. Kejujuran

Dalam hal ini, pedagang atau pengusaha tidak diperbolehkan menyembunyikan kecacataan barang. Jika hal tersebut disembunyikan, keberkahan jual beli akan hilang. Dalam doktrin Islam, kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda, "Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu barang yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya" (HR Al-Quzwani). Dalam hadist lain pun bersabda, "Siapa yang menipu kami, dia bukan kelompok kami" (HR Muslim). Rasulullah selalu bersikap jujur dalam berbisnis. Beliau melarang para pedagang meletakkan barang busuk di bagian bawah dan barang baru di atas. Selanjutnya, Ibnu Umar menurut riwayat Bukhori, memberitakan bahwa seorang lelaki menceritakan kepada Nabi SAW bahwa ia tertipu dalam jual beli. Kemudian Nabi SAW bersabda, "Apabila engkau berjual beli, katakanlah, ‘tidak ada tipuan'."
2. Pencatatan utang piutang
Dalam dunia bisnis lazim terjadi pinjam-meminjam. Dalam hubungan tersebut, Alqur'an mengajarkan pencatatan utang piutang yang berguna untuk mengingatkan salah satu pihak yang mungkin suatu waktu lupa atau khilaf : "Hai orang-orang yang beriman, kalau kalian berutang-piutang dengan janji yang ditetapkan waktunya, hendaklah kalian tuliskan. Dan seorang penulis di antara kalian, hendaklah menuliskannya dengan jujur. Janganlah penulis itu enggan menuliskannya, sebagaimana telah diajarkan oleh Allah kepadanya." (QS al-Baqarah [2] : 282)
3. Signifikansi sosial kegiatan bisnis
Pelaku bisnis menurut Islam, tidak hanya mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta'awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnisnya. Dengan tegas dapat dikatakan bahwa berbisnis bukanlah mencari keuntungan material semata, tetapi juga -harus didasari atas kesadaran- memberi kemudahan bagi orang lain dengan menjual barang.
Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi hasilnya tidak berkah.
4. Tidak melakukan sumpah palsu
ada kebiasaan pedagang untuk meyakinkan pembelinya dengan jalan bersumpah agar dagangannya laris. Nabi Muhammad SAW sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnisnya. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhori, ia bersabda, "Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi hasilnya tidak berkah." Dalam hadist riwayat Abu Zar, Rasulullah SAW mengancam orang yang bersumpah palsu dalam bisnis dengan azab yang pedih, dan Allah tidak akan memedulikannya di hari kiamat nanti (HR Muslim). Praktik sumpah palsu dalam kegiatan bisnis saat ini, sering dilakukan karena dianggap dapat meyakinkan pembeli, dan pada gilirannya akan meningkatkan daya beli atau pemasaran. Namun, harus disadari bahwa dalam keuntungan yang berlimpah tersebut, keberkahan tidak akan menyertainya.
5. Sikap longgar, ramah-tamah, dan murah hati
seorang pelaku bisnis harus bersifat longgar, ramah dan murah hati dalam melakukan bisnisnya. Hal itu selaras dengan sabda Rasulullah, "Allah mengasihi orang yang bermurah hati saat menjual, membeli, dan menagih utang" (HR Bukhari). Kemudian dalam hadits lain, Abu Hurairah memberitakan bahwa Rasulullah bersabda, "Ada seorang pedagang yang memiutangi orang banyak. Apabila dilihatnya orang yang ditagih itu dalam kesempitan, dia diperintahkan kepada pembantu-pembantunya, ‘Berilah kelonggaran kepadanya, mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan kepada kita'. Maka Allah pun memberikan kelapangan kepadanya." Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun mengatakan, "Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis" (HR Bukhari dan Tarmizi).
6. Tidak menjelekkan bisnis orang lain
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain" (HR Muttafaq ‘alaih).
7. Jujur dalam takaran dan timbangan
Allah berfirman dalam surah al-Muthafifin (83) ayat 1-3, yang artinya sebagai berikut :
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."
Berdasarkan ayat tersebut, dalam perdagangan, timbangan yang benar dan tepat harus benar-benar diutamakan.

8. Islam tidak mengenal persaingan bisnis, teapi mengenal bersinergi
Dalam hal ini, kegiatan bisnis seorang pengusaha dengan pengusaha lainnya harus saling menguntungkan, atau dengan perkataan lain dilarang menyaingi kawan bisnis. Hal tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah, "Janganlah kamu menjual dengan menyaingi dagangan saudaramu" (HR Muttafaq ‘alaih).

9. Bisnis tidak boleh mengganggu kegiatan ibadah kepada AllahHal ini sesuai dengan firman Allah, "Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah, serta dari mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan pelihatan menjadi goncang."
10. Pembayaran upah sebelum keringat karyawan kering
Nabi Muhammad SAW bersabda, "berikanlah upah kepada karyawan, sebelum kering keringatnya." Hadits ini mengindikasikan bahwa pembayaran upah tidak boleh ditunda-tunda. Pembayaran upah harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.
11. Tidak memonopoli bisnis
Salah satu keburukan sistem ekonomi kapitalis ialah melegitimasi monopoli dan oligopoli. Contoh sederhana : eksploitasi (penguasaan ) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti : air, udara, dan tanah, serta kandungan isinya, seperti : barang tambang dan mineral. Individu tersebut mengeruk keuntungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain. Hal seperti itu dilarang dalam etika bisnis Islam (Abdul, 1992).
12. Tidak melakukan bisnis dalam kondisi berbahaya (mudarat)
Dalam hal ini, seorang pedagang atau pengusaha dilarang berbisnis dalam keadaan yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial. Contoh : larangan melakukan bisnis senjata di saat terjadi kekacauan politik dan larangan menjual barang halal, seperti anggur kepada produsenminuman keras karena diduga keras, ia akan mengolahnya menjadi miras.
13. Anjuran berzakat
Setiap pengusaha dianjurkan untuk menghitung dan mengeluarkan zakat barang dagangan setiap tahun sebanyak 2,5% sebagai salah satu cara untuk membersihkan harta yang diperoleh dari hasil usaha.
14. Hanya menjual barang yang halal
Dalam salah satu hadits, Nabi SAW menyatakan bahwa jika Allah mengharamkan sesuatu barang, haram pula harganya (diperjualbelikan). Oleh karena itu, dalam berbisnis, pengusaha diwajibkan untuk menjual komoditas yang suci dan halal, bukan barang haram, seperti : babi, anjing, minuman keras, dan ekstasi. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan ‘patung-patung'" (HR Jabir).
15. Segera melunasi utang
Rasulullah memuji seorang muslim yang memiliki perhatian serius dalam pelunasan utangnya dengan sabda, "Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling segera membayar hutangnya" (HR Hakim)
16. Pemberian tenggang waktu apabila pengutang belum mampu membayar
Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan membayar utang atau membebaskannya, Allah akan memberinya naungan di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya" (HR Muslim)
17. Larangan riba
Bisnis yang dilaksanakan harus bersih dari unsur riba, sebagaimana Allah telah berfirman, "Allah menghapuskan riba dan menyempurnakan kebaikan sedekah. Dan Allah tidak suka kepada orang yang tetap membangkang dalam bergelimang dosa". Dalam firman Allah yang lain, yaitu dalam surat al-Baqarah [2] : 278, yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman".
Selanjutnya, Allah menilai bahwa pelaku dan pemakan adalah orang yang kesetanan. Oleh karena itu, Allah dan Rasul mengumumkan perang terhadap riba. Berikut ini firman Allah dalam surah al-Baqarah (2) ayat 275, yang artinya :
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."
 


Dikirim pada 20 Agustus 2014 di Entrepreneur & Bisnis
comments powered by Disqus
Profile

Apa yg ada di BELAKANG kita & di DEPAN kita adalah hal kecil dibandingkan dgn apa yg ada DALAM diri kita #MHMGatsu More About me

BlogRoll
Yahoo Messenger
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 490.585 kali


connect with ABATASA