0
Dikirim pada 15 Februari 2013 di Hikmah

Sore itu, hujan deras mengguyur kawasankampus UB. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, saat dimana aktivitas kantor dihentikan. Tetapi masih banyak pegawai yang belum meninggalkan
ruangan karena menunggu hujan reda. Di salah satu ruangan, seorang gadis mondar-mandir dengan sesekali menatap keluar jendela, memastikan apakah hujan sudah reda. Wajahnya tampak agak bingung.

“Gimana saya pulang?” lirihnya. Biasanya ia pulang bersama temannya, tetapi sore itu ia harus naik angkot. Dan untuk menunggu angkot ia harus berjalan kegerbang depan kampus yang jaraknya
lumayan jauh.

 

“Pak, bisa tukar uang?” tanyanya pada seorang lelaki yang duduk tidak jauh darinya . Di ruangan itu tinggal mereka berdua, sedangkan pegawai-pegawai yang lain sudah pulang terlebih dahulu. “Buat apa?” tanya lelaki itu. “Buat bayar angkot, uang saya tinggal ini.” jawab gadis itu seraya mengambil uang 50ribuan dari dalam dompet. “Masak nggak ada yang lain?” lelaki itu pura-pura tidak percaya.

 

“Iya, tinggal ini aja” jawab gadis itu meyakinkan. Ia kemudian mengangsurkan dompetnya kepada lelaki itu berharap percaya bahwa uangnya tinggal 50 ribuan saja. Lelaki itu iseng-iseng memeriksa dompet
berwarna cokelat meskipun sebenarnya ia telah percaya akan apa yang dikatakan gadis itu. Sejenak ia buka-buka dompet itu, ia tidak mendapati uang lain selain uang 50 ribuan. “Ini foto siapa?” tanya lelaki itu saat mendapati foto hitam-putih seorang wanita di dalam dompet itu. “Itu foto ibu saya,” jawab gadis itu pelan. “Itu foto almarhum ibu saya, yang meninggal saat saya masih umur 2 tahun” lanjut gadis itu seolah menegaskan. Yang diketahui lelaki itu selama ini bahwasannya gadis itu masih memiliki seorang ibu, yang biasa ia panggil Mama. Keterangan singkat yang baru saja ia terima membuatnya tersadar bahwa sebenarnya ibu kandung gadis itu telah tiada. Gadis itu ditinggal oleh ibunya sejak usia 2 tahun, usia yang masih sangat kecil untuk bisa mengenali sosok orang tuanya, khususnya ibu yang telah melahirkannya.

 

Keduanya terdiam, setelah lelaki itu mengembalikan dompet dan menjawab bahwa ia tidak memiliki uang kecil untuk ditukar. Gadis itu duduk di kursinya seraya menatap ke arah jendela; seolah-olah seperti menyaksikan tayangan hujan dilayar televisi. Entah apa yang dipikirkannya. Tetapi raut mukanya yang tampak sedih menggambarkan kerinduannya akan sosok ibu kandungnya yang telah belasan tahun  meninggalkannya. Tak biasanya ia beraut wajah seperti itu, karena gadis itu biasanya terlihat ceria penuh tawa dan banyak bicara. Entah, apakah ia juga menangis di hatinya seperti derasnya hujan kala itu. Menangis karena mengingat sosok ibunya yang telah tiada; sebuah ingatan yang tidak didasarkan pada penglihatan sosok sebenarnya, melainkan sebab ikatan yang terjalin sejak dalam kandungan. Setidaknya, begitulah lelaki itu beranggapan, sebab ia bisa merasakan.

 

Terngiang sebuah lirik lagu tentang ibu dipikiran lelaki itu. Sebuah lagu yang pernah dilantunkan oleh Opick bersama Amanda,


Satu Rindu :

Hujan kau ingatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan

Kau ibu Oh ibu

 

Hujan masih saja mengguyur. Lelaki dan gadis itu pun masih terdiam, seolah menikmati tetes demi tetes air hujan yang berada di luar sana. Hingga seorang pegawai yang lain masuk ke dalam ruangan dan menawarkan diri menyertai gadis itu menuju gerbang depan. Gadis itu akhirnya pulang setelah sebelumnya berpamitan kepada lelaki itu.

 

Hening. Tinggallah lelaki itu seorang diri, menatap ke arah jendela menyaksikan tontonan hujan; hanya menyaksikan, dan matanya ikut basah.

“Ibu, sedang apa engkau di sana?” lirihnya.



Dikirim pada 15 Februari 2013 di Hikmah
comments powered by Disqus
Profile

Apa yg ada di BELAKANG kita & di DEPAN kita adalah hal kecil dibandingkan dgn apa yg ada DALAM diri kita #MHMGatsu More About me

BlogRoll
Yahoo Messenger
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 501.298 kali


connect with ABATASA